1. Fun. Masterpiece of Genius

    by Puja Sumantri

    Sebuah era baru lahir dari ramuan musik grup yang berasal dari New York City, Amerika Serikat. Sesuai namanya, Fun berhasil menghadirkan musik yang fresh dan unik namun tetap berpegang pada genrenya, yakni Rock Alternative. Adalah Nate Ruess sang pentolan grup band ini. Setelah The Format (band sebelumnya) tercerai berai, Nate memutuskan untuk pindah dari Arizona ke NYC. Di sanalah Nate bersama kedua temannya, Andrew Dost (ex Anathallo) dan Jack Antonoff (masih berstatus personel Steel Train) menyatukan visi dan membentuk grup baru yang diberi nama Fun. Lain halnya dengan Nate dan Andrew, Jack sendiri masih bergabung dalam band Steel Train. Beberapa waktu lalu, Jack mengungkapkan bahwa ia sedang menggarap sebuah album untuk band lamanya tersebut.

    “Aim & Ignite” merupakan debut album perdana Fun yang dirilis pada 25 Agustus 2009. Sedangkan sophomore albumnya yang bertajuk “Some Nights” dirilis pada 21 Februari tahun ini. Pada album ini, merupakan titik balik Fun di mana mereka berhasil menemukan jati diri mereka. “Some Nights” jauh lebih unggul dalam kekayaan intstrumen musik jika dibandingkan dengan album pertamanya yang cenderung mengkloning musik dari The Format.

    Read More

  2. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  3. BULLY The Movie
    review by Puja Sumantri

    “Stop Bullying!” Secara sederhana, itulah pesan yang ingin disampaikan melalui media audio visual ini. “Bully”, sebuah fil dokumenter yang dirilis pada 30 Maret 2012. Termotivasi dari pengalaman naasnya saat masih duduk di bangku sekolah, Lee Hirsch, sang Sutradara memang bertekad untuk sengaja membuat estetika yang berbeda pada film ini. Meskipun dari segi tekhnis terbilang berantakan, namun tak perlu diragukan lagi alur cerita di dalamnya memiliki kisah yang sangat menyentuh.

    Film yang awalnya berjudul “The Bully Project” ini, secara garis besar mengungkap kekerasan bullying yang terjadi di sekolah-sekolah di AS. Lebih detil lagi, secara khusus difokuskan bercerita tentang kematian Tyler Long dan Ty Smalley, korban bullying yang akhirnya melakukan bunuh diri.

    Kebebasan dalam skenario pun sangat terdengar jelas, dengan banyaknya obrolan tai versi Amerika di dalamnya. Kontroversi inilah yang membuat film bertema kemanusiaan tersebut menjadi seperti film bokep 3GP, yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan manusia super berusia +17 tahun saja.

    Satu hal lagi yang mungkin menarik. Bagi anda penggemar penyanyi pria berambut lepek berinisial JB, persiapkan kuping anda untuk dimanjakan oleh suaranya dalam soundtrack film ini. Setidaknya, lagu “Born to Be Somebody” sedikit lebih memiliki makna dari pada lagu-lagu sampah sepenikon, ceribel ataupun cemes.

    Pada sebuah kesempatan, Hirsch juga mengatakan sebenarnya yang menjadi bagian tersulit korban bullying adalah membicarakan soal bully itu sendiri. Jadi bagi siapapun yang memnonton film ini, baik anda yang merupakan korban bullying atau bahkan SEBALIKNYA, diharapkan dapat bisa lebih membuka mata. Karena para korban bullying tidak seharusnya hanya bertindak diam. Dan bagi anda para PELAKU BULLYING… sincerely, PLEASE BE A HUMAN! Bertindaklah seperti manusia waras pada umumnya!

    caption foto: Alex salah satu korban bullying

  4. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  5. Mundur 1 Langkah, Maju 1000 Langkah

    Interview by Puja Sumantri

    Dunia cinemtografi tentu bukanlah hal yang asing bagi seorang Q Hamdan Purwo. Kematian ayahnya, membuat ia mencintai dunia audio visual ini. Mindsetnya telah tersetting, bahwa melalui film seseorang dapat menggenggam dunia. Pengabdiannya terhadap film juga dicurahkan pada karya-karyanya bersama Morality Audio Visual Network (Mav-Net). Selain sebagai “produser” pada pembuatan film INDEPENDENT, posisi sutradara dan penulis skenario juga pernah dilakoninya di beberapa judul film seperti “Kusamku, Aku Milikmu”, “Scene Terakhir”, “Good Day”, dan masih banyak film lainnya. Sampai saat ini selain produktif dalam berkarya, Q Hamdan juga kerap kali aktif dalam menyebarkan racun audio visual apada calon-calon sineas non komersil.

    Dan akhirnya, beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melakukan interview via online dengan pria yang saat ini bekerja sebagai Program Manager Highland Indonesia, dan Director Komedi Putar ini. Lets see, ada apa dengan dunia perfilman sataan ini.

    Puja Sumantri:

    Oke, dibuka dengan pertanyaan klasik, menurut abang dunia cinematografi Indonesia sekarang itu seperti apa?

    Read More

  6. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  7. Identitas Cirebon Sebuah Hibridasi

    Berbicara soal Cirebon, tentu tidak bisa lepas dari kata budaya. Kota yang sangat historis ini, tak dapat dipungkiri menyimpan banyak hasil cipta rasa manusia yang luar biasa. Sebegitu banyaknya budaya yang lahir dari setiap sudut kota Cirebon, kerap kali memunculkan sebuah pertanyaan. Apa dan siapakah sebenarnya kota Cirebon ini?

    Cirebon dikenal sebagai kota yang identik dengan keunikannya. Kota udang ini merupakan satu-satunya daerah yang memilik tiga keraton (Kesepuhan, Kanoman, dan Kacerbonan). Pada bidang seni, siapa yang tidak kenal dengan seni batik trusmi, mega mendung dan lukis kaca. Kenesian tarling, sintren, dan tari topeng, juga kerap kali disebut sebagai identitas kota Cirebon. Tidak hanya sampai disitu. Untuk kekayaan lautnya, perlu diketahui bahwa di dunia ini hanya negara Spanyol yang menjadi satu-satunya daerah yang dapat menandingi kekayaan laut kota Cirebon. Di mana Cirebon memiliki ribuan artefak kuno, yang tenggelam, terkubur dalam laut lepasnya.

    Read More

  8. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
  9. Official Trailer “Bully” Movie

  10. • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •
© veils and visions